☰
Kanal
✕

Dipecat Chelsea, Liam Rosenior Angkat Bicara soal Masa Tragisnya

Penulis: Fery Andriyansyah
06 Nov 2026, 06:00 WIB

Liam Rosenior membeberkan pengalaman tersulitnya selama memimpin Chelsea sebelum akhirnya dipecat oleh manajemen klub. (Foto: Emilian Baldow/Icon Sport via Getty Images)

Berita Liga Prancis: Mantan pelatih kepala Chelsea, Liam Rosenior, membeberkan pengalaman emosionalnya selama 107 hari menangani klub raksasa London Barat tersebut sebagai periode terbaik sekaligus tersulit dalam hidupnya. Sosok yang kini mengarsiteki Paris FC tersebut melontarkan kritik keras terhadap persepsi publik serta narasi media Inggris yang dinilainya sudah di luar batas wajar sepak bola.

Rosenior ditunjuk sebagai suksesor permanen Enzo Maresca di Stamford Bridge pada Januari lalu usai mencatatkan prestasi mengesankan bersama klub saudara BlueCo, Strasbourg. Kendati demikian, masa baktinya di London Barat hanya bertahan selama empat bulan sebelum akhirnya dipecat pada April akibat menelan lima kekalahan beruntun tanpa mencetak gol di kompetisi liga.

Dalam wawancara mendalam bersama media Prancis So Foot, juru taktik berkebangsaan Inggris tersebut mengungkapkan kekecewaannya atas perlakuan media serta tekanan publik yang diterimanya. Ia menilai sorotan miring terhadap cara berpakaian, gaya bicara, hingga instruksi taktisnya telah merusak reputasi profesionalnya sebagai seorang manajer.

"Itu adalah pengalaman terbaik dalam hidup saya, sekaligus yang paling sulit. Itu sangat fantastis, meskipun hanya berlangsung empat bulan. Di negara tempat toleransi menjadi nilai yang penting, apa yang terjadi di sana sama sekali tidak ada hubungannya dengan sepak bola," kata Liam Rosenior.

Mantan pelatih Hull City tersebut menambahkan bahwa pembentukan narasi negatif oleh media sosial dan insan pers di Inggris sangat memengaruhi opini publik terhadap kinerjanya. Perlakuan tersebut dirasakannya mulai memuncak bahkan ketika dirinya berhasil membawa Chelsea mencatatkan lima kemenangan beruntun di awal masa jabatannya.

"Mereka mengejek instruksi yang saya berikan kepada Alejandro Garnacho di secarik kertas saat kami bermain dengan 10 pemain melawan PSG. Pakaian yang saya kenakan menjadi lelucon, cara saya berbicara juga. Saya bukan lelucon. Pelajaran terbesar dari masa saya di Chelsea adalah mengetahui bahwa media mampu mengonstruksi seluruh narasi di sekitar perjalanan sebuah klub," lanjut Rosenior.

Liam Rosenior menegaskan bahwa dirinya merupakan sosok yang selalu berusaha tampil jujur serta otentik tanpa harus memaksakan diri memenuhi standar baku cara berperilaku seorang manajer Premier League.

"Di Inggris, ada prasangka tentang bagaimana seharusnya seorang pelatih Premier League bertindak. Orang-orang yang mengenal saya tahu bahwa saya mencoba menjadi orang yang tulus dan autentik. Suatu hari nanti, saya akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi," tegas Rosenior.

Artikel Tag: Chelsea, Liam Rosenior, Paris FC

Berita Terkait

Berita Terpopuler Minggu Ini

Berita Terbaru