Pengamat Basket Rachel DeMita Kritik Penjadwalan Final WNBA 2026
Rachel DeMita menyalahkan manajemen Dream dan pimpinan liga karena dinilai tidak mempersiapkan kemungkinan tim tersebut mencapai final. (Foto: Youtube/WNBA)
Rachel DeMita, pembawa acara Courtside Club, mengkritik keras penjadwalan dan pengelolaan Final WNBA 2026 yang mempertemukan Atlanta Dream dan Golden State Valkyries.
Menurutnya, buruknya perencanaan telah mengganggu momentum kompetisi dan berpotensi mengurangi jumlah penonton, meskipun pertandingan ini sangat dinantikan penggemar bola basket.
Rachel DeMita menyoroti jeda delapan hari sebelum babak final yang tidak dimanfaatkan secara efektif untuk menyelesaikan persoalan jadwal dan lokasi pertandingan kandang Atlanta.
Ia menyalahkan manajemen Dream dan pimpinan liga karena dinilai tidak mempersiapkan kemungkinan tim tersebut mencapai final.
“Ini sepenuhnya kesalahan organisasi Atlanta Dream, pemilik Atlanta Dream, dan pimpinan WNBA,” kata Rachel DeMita.
Ia menilai ketidaksiapan tersebut menunjukkan bahwa pemilik tim tidak memperkirakan Atlanta akan melaju sejauh ini.
Masalah semakin terlihat ketika Game 6 dijadwalkan berlangsung di State Farm Arena, Atlanta, pada Kamis (29/10) pukul 12.30 waktu setempat.
Pemilihan arena yang lebih besar menguntungkan kapasitas penonton, tetapi waktu pertandingan berpotensi membatasi jumlah pemirsa televisi karena berlangsung pada hari kerja.
DeMita juga mengkritik keputusan menyiarkan pertandingan melalui E! dan Syfy, bukan CNBC, karena jadwalnya bertepatan dengan jam perdagangan pasar keuangan.
“Ini seharusnya menjadi puncak bola basket. Ini adalah momen terbesar dalam setahun bagi WNBA,” ujarnya, seraya menyebut situasi tersebut sebagai lelucon.
DeMita menolak usulan agar NBA mengubah jadwal untuk mengakomodasi pertandingan WNBA.
Menurutnya, Atlanta Hawks dan Cleveland Cavaliers memiliki agenda sendiri, termasuk pertandingan beruntun dan perjalanan antarkota. Perubahan jadwal berpotensi meningkatkan kelelahan pemain serta risiko cedera.
“Ini bukan kesalahan NBA dan bukan masalah yang harus mereka tangani,” katanya. DeMita menegaskan WNBA harus bertanggung jawab atas persoalan yang muncul akibat perencanaan mereka sendiri.
Ia juga menghubungkan jadwal yang tidak konsisten dengan menurunnya kualitas permainan.
Dalam Game 5, Golden State menang 64-55 setelah kedua tim kesulitan mencetak angka. Atlanta hanya memasukkan 29,2 persen tembakan dari lapangan dan 23 persen tembakan tiga angka. Golden State mencatatkan akurasi masing-masing 39 persen dan 25 persen.
“Mereka seharusnya tidak hanya bermain di satu sisi lapangan. Bola basket adalah permainan menyerang dan bertahan,” kata Rachel DeMita, mengkritik permainan ofensif kedua tim.
Meski mengakui wasit melewatkan sejumlah pelanggaran, ia juga menyoroti kontak fisik berlebihan dari kedua tim.
Angel Reese hanya mencetak tujuh poin dan meraih 15 rebound, sedangkan Rhyne Howard menyumbang 20 poin bagi Atlanta.
Golden State menunjukkan penyesuaian strategi melalui rotasi pemain yang lebih pendek dan perubahan susunan pemain inti.
Dengan keunggulan 3-2 dalam seri berformat tujuh pertandingan, DeMita memperkirakan Golden State mampu menuntaskan final.
Ia berharap WNBA menjadikan persoalan ini sebagai pelajaran agar pemain, penggemar, dan kompetisi mendapatkan pengelolaan yang lebih baik pada musim berikutnya.
Artikel Tag: Golden State Valkyries, Atlanta Dream