Michigan Wolverines Andalkan Trio “Big Man” untuk Rebut Peringkat 1 di AS
Trio “big man” Michigan Wolverines: Aday Mara, Yaxel Lendeborg, dan Morez Johnson Jr. (Foto: AP)
Michigan Wolverines menjelma menjadi tim nomor satu di Amerika Serikat dengan cara yang tak lazim di era basket modern: mengandalkan lini depan bertubuh raksasa yang tetap mampu bermain cepat dan efisien.
Di bawah arahan pelatih Dusty May, Wolverines membangun identitas lewat tiga starter dengan tinggi minimal 6 kaki 9 inci, yakni Yaxel Lendeborg, Morez Johnson Jr., dan Aday Mara.
Ketiganya merupakan pemain transfer yang sebelumnya lebih banyak beroperasi sebagai center di kampus lama masing-masing.
Namun di Michigan Wolverines, mereka dipadukan dalam satu unit yang menjadi fondasi kesuksesan tim.
Performa dominan itu terlihat jelas saat turnamen Feast Week di Las Vegas.
Michigan membantai Gonzaga dengan selisih 40 poin, membalikkan skenario atas tim yang biasanya mendominasi area paint.
Pelatih Gonzaga, Mark Few, mengakui timnya kesulitan mencetak angka dari dalam, sesuatu yang jarang terjadi sepanjang kepemimpinannya.
Kemenangan besar atas Gonzaga menjadi bagian dari rangkaian dominasi Michigan atas tiga lawan beruntun di ajang Players Era Festival dengan total margin 110 poin.
Sejak saat itu, laju Wolverines nyaris tak terbendung.
Dari 25 kemenangan yang diraih, 10 di antaranya didapat dengan selisih minimal 30 poin. Satu-satunya kekalahan mereka pun hanya berjarak tiga angka.
Keberhasilan ini tak lepas dari filosofi May yang menekankan ukuran tubuh tanpa mengorbankan mobilitas.
Michigan Wolverines tetap bermain dalam tempo tinggi, berada di jajaran teratas nasional dalam efisiensi ofensif, rasio assist, serta akurasi tembakan tiga angka yang menembus 36 persen.
Kombinasi ukuran dan kecepatan membuat mereka sulit diantisipasi.
Lendeborg menjadi kepingan penting setelah memutuskan mundur dari proses NBA Draft dan bergabung penuh dengan tim.
Meski sempat butuh waktu beradaptasi di awal musim, ia kini mampu meregangkan pertahanan lawan lewat kemampuan menembak dan membaca permainan.
Johnson memberi dimensi fisik dan ketangguhan di area pertahanan, sementara Mara menghadirkan perlindungan ring dengan postur 7 kaki 3 inci serta kemampuan mengalirkan bola.
Secara defensif, Michigan menempati peringkat pertama nasional dalam adjusted defensive efficiency, serta berada di papan atas untuk persentase pertahanan tembakan dan dua angka.
Meski memainkan tiga big man sekaligus, May tetap mempertahankan skema pertahanan man-to-man dengan switching agresif.
Kedalaman skuad juga menjadi faktor pendukung.
Guard Elliot Cadeau menunjukkan perkembangan signifikan sebagai pengatur serangan, sementara Nimari Burnett dan Roddy Gayle Jr. memberi kontribusi di sayap.
Rotasi bangku cadangan yang solid membuat intensitas permainan tetap terjaga.
Michigan Wolverines kini membidik unggulan nomor satu di NCAA Tournament untuk keempat kalinya dalam sejarah program.
Tantangan berat sudah menanti, termasuk duel melawan Duke dan Illinois dalam waktu dekat.
Dengan keseimbangan antara ukuran, kecepatan, serta kedalaman roster, Michigan menegaskan diri sebagai kandidat kuat juara nasional.
Lini depan “superbesar” mereka bukan sekadar gimmick taktik, melainkan identitas yang membawa Wolverines ke puncak peringkat nasional.
Artikel Tag: NCAA