Kanal

Asosiasi Pemain WNBA Ajukan Tawaran Baru, Pangkas Tuntutan Bagi Hasil

Penulis: Hanif Rusli
19 Feb 2026, 20:24 WIB

Dalam proposal kepada WNBA tersebut, serikat pemain disebut memberikan sejumlah konsesi terkait pembagian pendapatan dan fasilitas perumahan pemain.

Women's National Basketball Players' Association (WNBPA) mengajukan proposal balasan terbaru kepada WNBA pada Selasa (17/2) waktu setempat.

Dalam proposal tersebut, serikat pemain disebut memberikan sejumlah konsesi terkait pembagian pendapatan dan fasilitas perumahan pemain.

Menurut sumber yang mengetahui detail negosiasi kepada ESPN, WNBPA kini meminta rata-rata 27,5 persen dari pendapatan kotor liga sepanjang masa perjanjian kerja bersama (CBA) yang baru.

Pada tahun pertama kesepakatan, pemain diusulkan menerima 25 persen dari pendapatan kotor dengan batas salary cap kurang dari 9,5 juta dolar AS.

Angka tersebut lebih rendah dibanding proposal sebelumnya pada Desember lalu, ketika serikat pemain meminta rata-rata 31 persen pendapatan kotor, dimulai dari 28 persen di tahun pertama dengan salary cap sekitar 10,5 juta dolar AS.

Isu perumahan juga menjadi poin krusial dalam perundingan yang telah berlangsung selama 16 bulan terakhir.

 Dalam proposal terbaru, pemain mengusulkan agar tim tetap menyediakan perumahan bagi pemain pada tahun-tahun awal perjanjian baru.

Namun, pada tahun-tahun berikutnya, kewajiban tersebut tidak lagi berlaku bagi pemain dengan kontrak multi-tahun bernilai mendekati maksimum dan memiliki jaminan gaji penuh.

Sejak CBA pertama diratifikasi pada 1999, tim WNBA diwajibkan menyediakan perumahan bagi pemain, baik berupa apartemen satu kamar tidur maupun tunjangan (stipend).

Dalam proposal sebelumnya, liga belum memasukkan ketentuan perumahan.

Namun, pada awal Februari ini WNBA menawarkan kompromi dengan menyediakan apartemen satu kamar bagi pemain bergaji minimum dan pemain tanpa masa kerja selama tiga tahun pertama kesepakatan baru, serta apartemen studio bagi pemain pengembangan.

Meski demikian, pihak liga menilai proposal terbaru WNBPA masih belum realistis.

Dalam pernyataan resminya, juru bicara WNBA menyebut usulan tersebut berpotensi menyebabkan kerugian ratusan juta dolar bagi tim-tim peserta.

Sumber yang mengetahui proyeksi internal liga menyebut skema terbaru serikat pemain bisa memicu kerugian hingga 460 juta dolar AS sepanjang masa perjanjian.

Sebelumnya, liga memperkirakan proposal Desember dari WNBPA akan menimbulkan kerugian hingga 700 juta dolar AS dan membahayakan kesehatan finansial liga.

Namun, pihak serikat pemain membantah angka tersebut dan menyebut perhitungan liga keliru, terutama terkait apakah biaya ekspansi dimasukkan dalam kalkulasi pendapatan.

Kedua pihak sebenarnya telah sepakat untuk menerapkan sistem bagi hasil yang membuat gaji pemain meningkat seiring pertumbuhan pendapatan liga dan tim.

Namun, perbedaan utama terletak pada dasar perhitungan: WNBPA menginginkan skema berbasis pendapatan kotor, sementara liga tetap bersikukuh menggunakan pendapatan bersih (setelah dikurangi biaya operasional).

Dalam proposal terbarunya, WNBA menawarkan rata-rata lebih dari 70 persen dari pendapatan bersih kepada pemain, atau setara kurang dari 15 persen dari pendapatan kotor.

Liga juga mengusulkan salary cap sebesar 5,65 juta dolar AS pada 2026, naik signifikan dari sekitar 1,5 juta dolar AS pada 2025, dengan kenaikan bertahap mengikuti pertumbuhan pendapatan.

Di sisi pemain, proposal WNBPA memproyeksikan gaji maksimum — termasuk bagi hasil — mendekati 1,3 juta dolar AS pada 2026 dan hampir 2 juta dolar AS pada 2031.

Sebagai perbandingan, supermax 2025 berada di angka 249 ribu dolar AS, sementara rata-rata gaji pemain diproyeksikan melonjak dari 120 ribu dolar AS pada 2025 menjadi 540 ribu dolar AS pada 2026.

Negosiasi masih berlangsung intens, sementara liga dihadapkan pada agenda penting seperti draft ekspansi, draft pemain perguruan tinggi, serta periode free agency sebelum pemusatan latihan dimulai.

Artikel Tag: CBA, WNBA

Berita Terkait

Berita Terpopuler Minggu Ini

Berita Terbaru