Bagi Dominic Thiem, Kehidupannya Tak Bisa Bergantung Kepada Kesuksesan

Penulis: Dian Megane
Selasa 15 Sep 2020, 13:28 WIB
Mimpi Dominic Thiem untuk menangkan gelar Grand Slam terwujud di US Open 2020

Dominic Thiem berhasil kantongi gelar Grand Slam pertama dalam kariernya di US Open 2020

Berita Tenis: Ketika Dominic Thiem tumbuh besar, ia selalu bermimpi memenangkan gelar Grand Slam. Setelah mimpi tersebut terwujud dengan menang di US Open, ia tidak ingin kemenangan mengubah dirinya di luar lapangan.

Kepada ATPTour.com, petenis berkebangsaan Austria, Thiem mengungkapkan, “Saya harap hal itu tidak mengubah kehidupan saya karena kehidupan saya tidak bisa bergantung kepada kesuksesan. Itu akan menjadi hal yang salah. Tetapi yang pasti, saya harap hal itu mengubah karier saya. Sampai saat ini, saya mencapai tujuan terbesar yang telah saya tentukan dan saya harap hal itu membuat saya bisa bermain dengan lebih bebas dan bahkan memainkan permainan yang lebih baik di turnamen-turnamen besar selanjutnya.”

Petenis berusia 27 tahun tersebut menjadi petenis putra pertama yang memenangkan Grand Slam untuk kali pertama sejak Marin Cilic menjadi juara di US Open musim 2014. Di antara Australian Open musim 2017 dan US Open musim ini, hanya anggota Tiga Besar – Roger Federer, Rafael Nadal, dan Novak Djokovic – yang memenangkan gelar Grand Slam.

“Saya pikir, para petenis yang lebih muda akan memenangkan banyak gelar Grand Slam di masa mendatang, tetapi Tiga Besar masih berkiprah. Turnamen besar selanjutnya, French Open sudah di depan mata, Rafa dan Novak berada di undian Grand Slam itu,” tambah Thiem.

“Saya pikir, kapanpun mereka dalam undian turnamen, mereka selalu petenis yang paling difavoritkan untuk memenangkan gelar, karena mereka adalah mereka. Tetapi, saya pikir kemunculan wajah baru di daftar pemenang akan menjadi hal yang baik bagi dunia tenis putra.”

Bintang tenis Austria tersebut telah membuktikan bahwa ia bisa berkompetisi melawan para petenis terbaik dunia. Ketika berada dalam kondisi terbaik, petenis yang telah mengantongi 17 gelar Grand Slam mampu menumbangkan lawan manapun.

Sungguh ironis ketika dalam salah satu pertandingan terbesar dalam hidupnya melawan Alexander Zverev, ia banyak mengandalkan backhandnya di momen-momen krusial. Ia mengaku bahwa rasa tegang menghalanginya untuk menembakkan backhand satu tangan ciri khasnya, terutama menuju akhir pertandingan.

“Untuk menembakkan pukulan itu, terutama backhand, saya harus merasa bebas. Saya harus mendapatkan akselerasi yang baik pada pergelangan tangan dan seluruh lengan saya, dan saya tidak mendapatkannya karena rasa tegang. Dua set pertama sangat berat sampai saya membebaskan diri saya di set ketiga,” jelas Thiem.

Berkat kemenangan tersebut, ia masih menghuni peringkat 3 dunia dan hanya terpaut 725 poin dari petenis peringkat 2 dunia, Rafael Nadal.

“Sejujurnya saya tidak terlalu banyak memikirkan peringkat. Saya hanya fokus sepenuhnya dengan US Open dalam beberapa pekan terakhir. Tetapi sekarang, tujuan saya adalah mudah-mudahan peringkat saya bisa semakin meningkat, yang tentunya akan menjadi sangat, sangat berat,” tukas Thiem.

“Kita semua tahu ada dua nama besar di atas saya, tetapi saat ini adalah waktu untuk sedikit menikmati kemenangan ini, lalu bersiap-siap menuju French Open. Itu peluang yang luar biasa, dua turnamen besar secara beruntun dan saya menantikannya.”

Artikel Tag: Tenis, US Open, Dominic Thiem

1682  
Komentar

Terima kasih. Komentar Anda sudah disimpan dan menunggu moderasi.

Nama
Email
Komentar
160 karakter tersisa

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar disini