Ragam Basket: Mengenang "Last Shot", Tembakan Jordan Penentu Gelar Ke-6 Bulls

Penulis:
Rabu , 22:27 WIB
Ragam Basket: Mengenang

Foto olahraga no.1 sepanjang masa menurut Sports Illustrated

Ligaolahraga – Ragam Basket: Hari itu, 14 Juni 1998. Chicago Bulls bertandang ke Utah Jazz dalam gelaran Game 6 Final NBA. Michael Jordan melesakkan tembakan dari jarak 17 kaki dengan sisa 5,2 detik yang memberikan keunggulan 87-86 bagi Bulls, meski proses tembakannya menuai “kontroversi”.

Yang jelas, momen itu menjadi akhir sempurna yang diinginkan bagi banyak fans bagi pemain yang dijuluki GOAT, “The Greatest of All Time”: Tembakan penentu kemenangan yang memberikan MJ 45 poin dan Bulls gelar 3-peat kedua dan titel NBA keenam mereka di era 1990-an.

Sejak Jordan kembali dari masa pensiunnya pada 1995, ada semacam perasaan bahwa dinasti Bulls ini bisa berakhir kapan saja. Setelah Chicago mengoleksi titel juara pada 1996 dan 1997, orang-orang mulai bertanya-tanya: Apakah Jordan akan kembali? Apakah Scottie Pippen akan kembali? Apakah Dennis Rodman akan kembali? Apakah pelatih Phil Jackson akan kembali?

http://cdn.playbuzz.com/cdn/3ec56916-000a-4d33-83cd-f17c2c137a15/f13619ba-6f70-40da-80e3-76bf9a27b95b.jpg

Secara beruntun, keempat sosok terpenting Bulls itu memilih bertahan untuk satu tahun lagi. Tapi pada 1998, jelaslah bahwa era Bulls akan berakhir. GM Bulls Jerry Krause bersumpah Jackson tidak akan kembali sebagai pelatih, dan Jordan, yang berada di tahun terakhir kontraknya, bersumpah tak akan pernah bermain untuk siapapun kecuali Phil Jackson.

Dengan sikap keukeh Krause atas keputusannya itu, musim 1997-98 dipandang tak hanya sebagai tur perpisahan tim basket terhebat sepanjang masa tapi juga pebasket terhebat sepanjang masa. Kepopuleran Jordan demikian besar sampai-sampai tiket semua 82 partai reguler yang mereka mainkan tahun itu “sold out” alias ludes terjual, bahkan di Vancouver dan Toronto.

http://images.sneakernews.com/wp-content/uploads/2011/02/michael-jordan-through-the-years-air-jordan-xiv-10.jpghttp://images.jordansdaily.com/wp-content/uploads/2015/06/MJ97-98-67-copy.jpg

Musim itu, Chicago mengakhiri musim reguler dengan rekor 62-20, terbaik di Wilayah Timur. Meski tak sebaik musim ’96 dan ’97 saat mereka memenangi 72 dan 69 pertandingan, catatan menang-kalah mereka masih terbilang luar biasa mengingat Pippen, Luc Longley dan Steve Kerr absen dalam gabungan 100 partai. Jordan memimpin liga dalam hal perolehan poin dengan 28,7 per pertandingan dan terpilih sebagai MVP untuk kelima kali sepanjang kariernya.

Tapi memasuki babak playoff, Bulls benar-benar harus berjuang keras. Di seri final wilayah menghadapi Indiana Pacers, mereka memerlukan ketujuh pertandingan untuk lolos ke Final NBA. Di Final pun, mereka gagal memanfaatkan kesempatan menutup seri di Game 5 saat bermain di kandang.

https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/originals/54/ca/68/54ca68aa90b98e6cfc45795644c752cb.jpghttp://images.jordansdaily.com/wp-content/uploads/2016/06/michael-jordan-last-shot-1998-2.jpg

Alih-alih Jazz mencuri kemenangan di United Center untuk memperkecil skor menjadi 2-3, dengan dua pertandingan berikutnya duadakan di Utah. Untuk pertama kalinya, Bulls tidak hanya terlihat bisa dikalahkan, namun kekalahan boleh bilang bukan suatu kemustahilan.

Memerlukan kemenangan tandang di game 6 untuk memastikan gelar keenam mereka dalam sejarah klub, Bulls dalam posisi tertinggal sampai penghujung pertandingan. Pippen mengalami masalah pada punggung dan hanya bermain selama 26 menit dengan sumbangan delapan poin.

https://cdn-s3.si.com/s3fs-public/si/multimedia/photo_gallery/0904/nba.michael.jordan.through.the.years/images/michael-jordan-1998.jpghttps://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/e7/3f/54/e73f54e5d0fe8052c1769a2fd3be28fa.jpg

Sementara Steve Kerr tidak mampu melepaskan tembakan karena dijaga begitu ketat. Hanya Toni Kukoc – mencetak 15 poin, hasil 7 dari 14 tembakan – yang mencetak dobel-digit selain Jordan. Tapi bahkan Jordan, yang kala itu berusia 35 tahun, terlihat lebih kelelahan daripada biasanya.

Dengan sisa 41,9 detik di babak reguler, bintang Jazz John Stockton melesakkan tembakan 3-poin untuk memberikan keunggulan 86-83 bagi timnya. Sepertinya seri tersebut aan berlanjut ke Game 7 – pertama kalinya Bulls bakal bermain di partai terakhir dalam sebuah Final NBA.

http://p.imgci.com/db/PICTURES/CMS/229600/229637.jpg

Namun Jordan, memanfaatkan sisa-sisa tenaganya, memanggul timnya di 41,9 detik terakhir. Setelah timeout, Jordan dengan mudah melewati Bryon Russell untuk melakukan layup dengan sisa 37,1 detik. Kemudian saat giliran Jazz balik menyerang, Jordan diam-diam menyelinap di belakang Karl Malone dan mencuri bolanya, membuka peluang Bulls untuk balik unggul.

“Ketika saya mendapatkan bolanya, saya melihat ke atas dan melihat sisa 18,5 detik,” kata Jordan, mengenang. “Dan saya merasa kami tidak boleh meminta timeout; itu akan memberikan lawan kesempatan untuk mengatur pertahanan mereka. Ini situasi hidup-mati. Saya biarkan waktu berjalan dan saya berdiri di posisi yang saya inginkan di lapangan.”

https://i.ytimg.com/vi/xjV3u3ZUW38/maxresdefault.jpg

Dengan sisa waktu sembilan detik, Jordan mulai bergerak. Dengan Russell kembali menjaganya, dia menggiring bola memasuki garis 3-poin dan sedikit mendorong pinggul forward Jazz tersebut. Russell jatuh di garis tembakan bebas, sementara Jordan melompat untuk melepaskan tembakannya yang ke-35 malam itu.

Russell terlambat berdiri untuk memblok tembakan Jordan, dan Jordan dengan tenangnya memasukkan tembakan kemenangan dengan sisa 5,2 detik. Itu poinnya yang ke-45 dalam pertandingan itu, 16 di antaranya di kuarter tersebut.

https://images.solecollector.com/complex/image/upload/vdz4cdtnhp3q2nwpgdca.jpg

Kata Jordan, dia melihat John Stockton berada di sisa kanan menjaga Steve Kerr, dan dia “tak bisa berjudi” dengan meninggalkan Kerr dan ikut menjaga dirinya. “Saat Russell coba menjangkau bola, dia memberikan jalur yang lapang kepada saya. Saya menggiring bola, dia terpancing, dan saya berhenti, menembakkan bola tanpa ada halangan.”

Setelah menceploskan bola yang membuat Bulls unggul 87-86, Jordan sejenak tidak bergerak setelah menembak sembari tetap mengacungkan tangan kanan yang melepaskan bola.

http://ballislife.com/wp-content/uploads/2014/06/michael-jordan-last-shot-retrospective-02.jpg

Dalam serangan terakhir Utah, Stockton berdiri bebas di depan garis tembakan 3-poin. Dia menembak melewati Ron Harper, tapi tembakannya mengenai pinggiran ring dan memantul keluar. Para pemain Bulls berlari masuk lapangan, merayakan three-peat kedua mereka dalam delapan musim. Jordan pun terpilih sebagai MVP Final untuk keenam kalinya sepanjang kariernya.

“Saya tidak mengira dia akan mampu tampil lebih baik daripada penampilan itu,” kata Phil Jackson, mengacu pada penampilan Jordan di Game 5 1997 yang tetap bermain apik meski sakit akibat flu. “Saya pikir inilah penampilan terbaik Jordan dalam memenangi pertandingan, menang dalam momen yang genting dan partai yang kritis dalam seri ini.”

http://i.dailymail.co.uk/i/pix/2013/02/16/article-2279622-000E227700000258-590_964x703.jpg

Tepat pula Jordan menyimpan penampilan terbaiknya di momen terakhir. Tidak diragukan lagi tembakan kemenangan MJ atas Russell ini bukan hanya merupakan momen terbesar dalam kariernya, melainkan juga merupakan momen terbesar dalam sejarah NBA.

Dengan rating Nielsen sebesar 22,3 dan total penonton layar kaca sebanyak 72 juta orang, Game 6 Bulls-Jazz menjadi partai NBA yang paling banyak ditonton sepanjang masa. Angka yang bahkan belum tertandingi sampai saat ini.

http://history.bulls.com/wp-content/uploads/2016/02/90s_trophies.jpg

Toh sampai saat ini masih banyak yang mempertanyakan apakah dorongan yang dilakukan Jordan terhadap Russell seharusnya disemprit wasit. “Ada sejumlah wasit yang mendatangi saya dan mengatakan mereka akan meniupkan peluit tanda pelanggaran, namun siapa yang berani melakukannya saat itu terhadap pebasket terhebat sepanjang masa?” kata Russell, setengah bertanya pada 2014.

Jawaban pertanyaan apakah Jordan melakukan pelanggaran ofensif atau Russell sendiri yang membuatnya terpeleset mungkin tak akan pernah terjawab dan tak akan mengubah hasil pertandingan. Tidak juga keputusan seorang hakim MA di Utah, Matthew Durrant, yang memutuskan Jordan memang mendorong Russell ketika itu.

http://history.bulls.com/wp-content/uploads/2016/01/1998-06-14-Gm-6-v-UT-1998-NBA-Finals-Michael-Jordan-last-shot-behind-NBAE-Nathaniel-S.-Butler.jpg

Yang jelas, tembakan bersejarah Jordan tersebut diabadikan juga oleh salah satu fotografer NBAE, Fernando Medina. Tidak dinyana, foto yang memperlihatkan pemandangan Jordan melepaskan tembakan dalam posisi membelakangi lensa dengan latar belakang beragam ekspresi penonton Delta Center, menjadi foto paling ikonik dalam sejarah NBA dan foto olahraga no.1 sepanjang masa menurut Sports Illustrated.

Artikel Tag: michael jordan, chicago bulls, final nba, nba, basket

1606 
Berita Terkait
load more article