Berita Liga Italia: Sepenggal Sisi Kelam Stadion Olimpico Roma

Penulis:
Rabu , 15:01 WIB
Berita Liga Italia: Sepenggal Sisi Kelam Stadion Olimpico Roma

Stadio Olimpico Roma

Ligaolahraga - Berita Liga Italia: Stadion Olimpico Roma dikenal sebagai markas klub sepakbola SS Lazio dan AS Roma. Dua kali dalam semusim, colosseum modern ini menjadi saksi rivalitas sengit sepak bola Italia. Namun, tak banyak yang tahu sejarah kelam di balik arena olahraga ini.

Sederhana tetapi grandiose, kompleks olahraga luar biasa Roma Foro Italico berdiri kokoh dengan ikonografi fasis. Patung marmer setinggi 4.5 meter menggambarkan atlet-atlet Italia dalam berbagai pose dan obelisk 15 meter yang mengandung prasasti  “Mussolini Dux”, monumen terbesar peninggalan penguasa fasis Italia Benito Mussolini, menghiasi latar belakangnya.

Dibangun antara tahun 1928 hingga 1938, kompleks Foro, yang termasuk Stadio Olimpico, didesain dalam gaya khas era fasis. Bangunan ini terinspirasi oleh forum Roman dari masa imperial, yang didesain oleh Enrico Del Debbio dan kemudian dilanjutkan Luigi Moretti.

Picture

Foro Italico sebelumnya dikenal sebagai Foro Mussolini. Seorang diktator Italia yang dengan segera menyadari potensi kekuatan olahraga dalam mencapai ambisi politis dan ideologis seperti, dalam hal fasisme, kesatuan nasional dan martabat internasional.

Sebagai bagian dari latihan fisik militer atau acara olahraga besar, rezim fasis Mussolini merangkul olahraga dalam segala jenisnya. Sang diktator sendiri sering terlihat berkendara, berenang, dan bermain tenis. Bukan kebetulan bahwa Italia memenangkan dua Piala Dunia beruntun pada tahun 1934 dan 1938, saat era emas kelam olahraga fasis. Pencapaian olahraga semacam itu, dipandang sebagai bukti superioritas Italia dan ideologi fasis.

Di seluruh Italia, fasis membangun stadion sepak bola modern sebagai monument permanen kompetensi indrustial dan superioritas olahraga mereka. Stadion Mussolini di Turin, Littoriale di Bologna, Stadion della Vittoria di Bari, Berta di Florence, Edda Ciano Mussolini di Livorno, dan XXVIII Ottobre di L’Aquila. Stadion-stadion tersebut menjadi bukti perkembangan ekonomi yang dicapai di bawah kekuasaan Mussolini.

Dari tahun 1929 hingga 1940, AS Roma bermain di kandang mereka di stadion kecil di distrik pekerja Testaccio. Atmosfernya dapat dikatakan benar-benar menekan dan hal ini justru membawa kesuksesan untuk Giallorossi. Pada tahun 1940, mereka pindah ke Stadio del Partito Nazionale Fascicta, dan di sinilah mereka memenangkan gelar Scudetto perdana sepanjang sejarah di musim 1941-42. Tak sampai musim 1953-54, Roma hijrah ke Stadio Olimpico, yang saat ini menjadi markas bersama dengan rival sekota Lazio.

Tentu saja, Stadio Olimpico mengalami berbagai peningkatan, desain ulang, dan pembaharuan sejak era fasis yang paling terlihat adalah pada Olimpiade 1960 dan Piala Dunia 1990, yang membuatnya hampir sepenuhnya dirombak dan dibangun kembali. Stadion ini juga menjalani program modernisasi lebih lanjut sebagai tuan rumah Liga Champions 2009. Menyusul renovasi-renovasi tersebut, stadion ini masih diklasifikasikan sebagai stadion elit UEFA Kategori 4.

Picture

Meskipun dengan beragam reinkarnasi yang dilakukan, Foro Italico tetap menjadi salah satu bukti nyata arsitektur era fasis Italia yang masih bertahan.

Dan saat menjadi perdebatan bahwa sisa-sisa semacam itu tak memiliki tempat di era olahraga modern, sulit untuk menolak keindahan estetika dan efisiensi fungsionalitas Foro. Pusat olahraga yang luar biasa yang tak hanya menjadi markas bagi stadion nasional tetapi juga untuk dua klub Serie A dan tak ketinggalan Komite Olimpiade Nasional Italia atau CONI.

Dan untuk Mussolini Obelix, lebih dari apapun, tetap berdiri sebagai pengingat terakhir era kelam fasis dan tragisnya sosok pemimpin yang angkuh.

Artikel Tag: lazio, as roma, stadio olimpico, serie a